Tipe-Tipe Virtualisasi pada Proxmox
Apa itu Proxmox?
Proxmox Virtual Environment (VE) merupakan salah satu platform virtual server bersistem open source yang berbasis Linux Debian. Bentuknya berupa hardware dan sistem operasi dengan tujuan kita bisa mengelola dua teknologi virtualisasi sekaligus. Kegunaan Proxmox seperti:
- Pengembangan dan produksi website maupun aplikasi.
- Pengaturan pengelolaan summber daya.
- Penyimpanan segala jenis sumber daya yang ada dalam virtual machine.
- Penyedia cluster dengan avaliability yang tinggi melalui web interface.
Kelebihan Proxmox
- Open source (Gratis).
- Dilengkapi dengan firewall.
- Mendukung KVM dan LXC.
- Tampilan grafis (GUI).
- Terdapat berbagai macam plugin untuk storage.
Kekurangan Proxmox
- Kurangnya dukungan resmi untuk beberapa fitur.
- Kompleksitas.
Tipe-Tipe Virtualisasi Proxmox
Proxmox Virtual Environment merupakan platform virtualisasi server sumber terbuka yang tangguh untuk mengelola dua teknologi virtualisasi, yaitu KVM (Kernel-based Virtual Machine) untuk mesin virtual dan LXC (Linux Containers) untuk kontainer dengan satu antarmuka berbasis web.
KVM (Kernel-based Virtual Machine)
KVM (Kernel-based Virtual Machine) adalah infrastruktur virtualisasi yang bisa menjadikan kernel Linux sebagai sebuah hypervisor. KVM membutuhkan dukungan hardware virtualization extension dari prosessor (CPU) yang digunakan. KVM dikembangkan oleh Red Hat Corporation untuk memberikan solusi virtualisasi pada sistem operasi berbasiskan Linux. KVM mulai digabungkan dalam kernel Linux sejak kernel versi 2.6.20, yang di-release pada tanggal 5 Februari 2007.
KVM, dimungkinkan untuk membangun beberapa mesin virtual (Guest OS) di atas kernel Linux. Meskipun dibangun diatas kernel Linux, Guest OS yang dapat dihadirkan bermacam-macam, seperti Linux, BSD (Berkeley Software Distribution), OS X, maupun Solaris. KVM bisa memberikan alokasi penggunaan hardwere seperti CPU, RAM,Hard disk dan lain-lain kepada masing-masing Guest OS.
KVM menghadirkan Guest OS dalam bentuk full virtualization. Karena Guest OS yang dihadirkan dalam bentuk KVM akan menggunakan kernel dan sistemnya sendiri.
Linux Container (LXC)
Linux Container (LXC) adalah teknologi virtualisasi yang memungkinkan pengguna untuk menjalankan beberapa sistem Linux yang terisolasi pada satu host. Dengan kata lain, LXC dapat menghadirkan sebuah Guest OS dalam bentuk container.
Pada awalnya Proxmox menggunakan OpenVZ sebagai container. Sehingga sampai pada Proxmox v3, kita bisa menggunakan template dari OpenVZ pada saat akan membangun container. Hal ini membawa dampak pada saat melakukan migrasi dari Proxmox v3 ke Proxmox v4. Saat sudah memiliki container yang berjalan di Proxmox v3 dan ingin beralih ke Proxmox v4, harus dilakukan konversi dari OpenVZ ke Linux Container (LXC). Beberapa perintah dalam bentuk command line untuk melakukan maintenance juga berubah. Jika pada Proxmox v3 dikenal perintah vzctl untuk melakukan manajemen kontainer, maka pada Proxmox v4 digunakan perintah pct.
KVM melakukan virtualisasi secara penuh (fully virtualized) dari sebuah sistem operasi, maka container tidak melakukan hal tersebut. Container akan menggunakan kernel dari Host OS (Proxmox) untuk menghadirkan Guest OS. Karena menggunakan kernel sistem operasi milik Host OS, maka kernel yang akan digunakan oleh Guest OS adalah sama dengan kernel oleh Host OS.
Perbedaan KVM dan LXC
1. Tipe Virtualisasi
- KVM: merupakan virtualisasi penuh yang memungkinkan setiap mesin Virtual (VM) untuk
menjalankan sistem operasi lengkap dengan kernel-nya sendiri. Ini memberikan isolasi yang kuat antara VM dan Host.
- LXC: merupakan virtualisasi berbasis kontainer yang menggunakan kernel dari Host, dengan kata lain Host OS berbagi kernel dengan Guest OS.
2. Penggunaan Sumber Daya
- KVM: memerlukan lebih banyak sumber daya (CPU dan Memori) karena setiap VM memiliki kernel terpisah, sehingga terdapat overhead lebih besar dalam hal penggunaan sumber daya.
- LXC: menggunakan sumber daya yang lebih efisien, memungkinkan lebih banyak container berjalan pada satu host dibandingkan dengan KVM.
3. Keamanan
- KVM: menawarkan tingkat keamanan yang lebih tinggi karena isolasi penuh antar VM.
- LXC: meskipun memiliki isolasi tersendiri, semua kontainer dengan kernel yang sama dengan Host OS, sehingga ada resiko keamanan yang lebih tinggi jika salah satu kontainer terkompromi.
4. Kecepatan Boot
- KVM: proses booting biasanya lebih lambat dan bisa memakan waktu beberapa menit, tergantung pada spesifikasi sistem dan ukuran VM.
- LXC: proses booting lebih cepat dan memakan waktu hingga hitungan detik, menjadi pilihan yang lebih cepat untuk aplikasi yang membutuhkan respon cepat.
5. Dukungan Sistem Operasi
- KVM: dapat menjalanlan berbagai sistem operasi, termasuk windows dan berbagai distribusi Linux.
- LXC: hanya dapat menjalankan sistem operasi berbasis Linux, karena bergantung pada kernel host yang sama.
Komentar
Posting Komentar